Mycobacterium
Tuberculosis
A. Mycobacterium
Tuberculosis
Tuberculosis (TBC atau TB)
adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga
memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi
organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia (Budiman B, 2006).
B.
Morfologi dan struktur Mycobacterium
tuberculosis
Mycobacterium
tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit
melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3
– 0,6 mm dan panjang 1 – 4 mm. Dinding Mycobacterium tuberculosis
sangat kompleks, terdiri dari lapisan lemak cukup tinggi (60%). Penyusun utama
dinding sel Mycobacterium
tuberculosis ialah asam mikolat, lilin kompleks (complex-waxes), trehalosa dimikolat yang disebut cord factor, dan Mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam
virulensi Asam mikolat merupakan asam lemak berantai panjang (C60 – C90) yang
dihubungkan dengan arabinogalaktan oleh ikatan glikolipid dan dengan
peptidoglikan oleh jembatan fosfodiester.
Unsur lain yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida
seperti arabinogalaktan dan arabinomanan. Struktur dinding sel yang kompleks
tersebut menyebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis bersifat tahan
asam, yaitu apabila sekali diwarnai akan tetap tahan terhadap upaya
penghilangan zat warna tersebut dengan larutan asam–alkohol (Budiman B, 2006).
C.
Klasifikasi
1.
Kingdom: Bacteria
2.
Filum: Actinobacteria
3.
Ordo: Actinomycetales
4.
Upaordo: Corynebacterineae
5.
Famili: Mycobacteriaceae
6.
Genus: Mycobacterium
7.
Spesies:Mycobacterium tuberculosis
(Budiman B, 2006).
D.
Factor faktor yang berhubungan dengan terjadinya peningkatan angka kejadian
penyakit TB Paru.
Faktor-faktor yang memungkinkan orang
mudah terinfeksi penyakit TB paru ada
beberapa karakteristik golongan penduduk yang mempunyai risiko mendapat TB paru lebih besar
daripada golongan lainnya. Diantaranya
adalah faktor umur, pendidikan, pengetahuan,pekerjaan, jenis kelamin, kondisi
lingkungan yang tidak sehat, adanya penyakit
lain yang menyebabkan daya tahan tubuh rendah, gizi buruk, kontak dengan sumber penularan, pengaruh
merokok, asap dapur, asap obat nyamuk dan sebagainya (Koes, I 2006).
1.
Faktor Agent (penyebab penyakit)
Faktor agent (penyebab penyakit)
yaitu semua unsur baik elemen hidup atau mati yang kehadirannya dan atau ketidakhadirannya,
apabila diikuti dengan kontak yang
efektif dengan manusia rentan dalam keadaan yang memungkinkan akan memudahkan terjadinya suatu
proses penyakit. Agen diklasifikasikan
sebagai agen biologis, kimia, nutrisi, mekanik, dan fisik. Untuk khusus TB paru
yang menjadi agen adalah kuman Micobacterium tuberculosis (Nugraha, 2009) .
Menurut penelitian, angka prevalensi TB di masyarakat, pengobatan yang relatif lama, terutama yang
kontak serumah dengan penderita TB Paru menyebabkan
meningkatnya kejadian TB paru. Hasil penelitian, menemukan bahwa lama kontak
> 3 bulan dengan penderita TB paru dapat meningkatkan kejadian TB paru dalam
masyarakat (Koes, I 2006).
2.
Faktor Host (Penjamu)
Faktor Host (pejamu) adalah
manusia yang mempunyai kemungkinan terpapar oleh Agent (penyebab penyakit). Ada beberapa faktor yang berkaitan
dengan penjamu antara lain usia, jenis
kelamin, ras, sosial ekonomi, kebiasaan hidup, status perkawinan, pekerjaan
keturunan, nutrisi dan imunitas. Faktor tersebut menjadi penting karena dapat
mempengaruhi resiko untuk terpapar.
sumber infeksi dan kerentanan serta resistensi dari manusia terhadap
suatu penyakit atau infeksi seperti halnya :
a.
Pendidikan
Pendidikan akan menggambarkan
perilaku seseorang dalam kesehatan. Semakin rendah pendidikan maka ilmu
pengetahuan di bidang kesehatan semakin berkurang, baik yang menyangkut asupan
makanan, penanganan keluarga yang menderita sakit dan usaha-usaha preventif
lainnya.Tingkat pendidikan yang rendah dapat mempengaruhi pengetahuan di bidang
kesehatan, maka secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi
lingkungan fisik, lingkungan biologis dan lingkungan sosial yang merugikan
kesehatan dan dapat mempengaruhi penyakit TB dan pada akhirnya mempengaruhi tingginya kasus TB yang
ada. Pendidikan berkaitan dengan pengetahuan penderita. Pendidikan penderita
yang rendah mengakibatkan pengetahuan rendah, sehingga memungkinkan penderita
dapat putus dalam pengobatan karena minimnya pengetahuan dari penderita dan
ketidak mengertinya pengobatan. Hal ini mengakibatkan penderita tidak dapat
teratur dalam program pengobatan yang dijalani. Hampir seluruh penelitian
sebelumnya menemukan faktor pendidikan sangat erat kaitannya dengan ketidak teraturan
berobat dan minum obat (Koes, I 2006).
b.
Pengetahuan
Pengetahuan penderita yang baik
tentang penyakit TB paru dan pengobatannya akan meningkatkan keteraturan
penderita, dibandingkan dengan penderita yang kurang akan pengetahuan penyakit
TB paru dan pengobatannya..Seseorang yang punya pengetahuan yang baik tentang
penularan TB paru,akan berupaya untuk mencegah penularannya.Kategori
pengetahuan dapat dikelompokkan berdasarkan jawaban benar responden.
Pengetahuan tinggi jika responden dapat menjawab dengan benar 75%, dan rendah
bila < 75% (Koes, I 2006).
c.
Pendapatan
Pendapatan akan banyak
berpengaruh terhadap perilaku dalam menjaga kesehatan dalam keluarga. Hal ini
disebabkan pendapatan mempengaruhi pendidikan dan pengetahuan seseorang dalam
mencari pengobatan mempengaruhi asupan makanan, mempengaruhi lingkungan tempat
tinggal seperti keadaan rumah dan bahkan kondisi pemukiman yang di tempati. Sekitar
90% penderita TB paru di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau
miskin. Faktor kemiskinan walaupun tidak berpengaruh langsung pada kejadian tuberculosis paru namun dari beberapa
penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pendapatan yang rendah dan
kejadian tuberculosis paru. Lebih
lagi bahwa ada hubungan pengangguran dengan kejadian tuberculosis (Koes, I
2006).
d.
Status Gizi
Secara umum kekurangan gizi, atau gizi buruk akan berpengaruh terhadap
kekuatan, daya tahan dan respon imun terhadap serangan penyakit. Faktor ini
sangat penting pada masyarakat miskin, baik pada orang dewasa maupun pada anak.
faktor kurang gizi atau gizi buruk akan meningkatkan angka kesakitan/kejadian
TB paru, terutama TB paru pertama sakit dikutip dari Misnardiarly (Koes, I
2006).
e.
Imunisasi BCG (Baccilus Calmatte
Guerin)
Hubungan kekebalan (status
imunisasi) dengan kejadian TB paru bahwa
anak yang divaksinasi BCG (Baccilus
Calmatte Guerin) memiliki risiko 0,6 kali untuk terinfeksi tuberculosis (95% CI 0,430,83, p=
0,003), dibandingkan dengan anak-anak yang belum divaksin. Walaupun imunisasi BCG (Baccilus Calmatte Guerin) tidak mengegah infeksi tuberculosis namun dapat mengurangi
risiko TB paru berat seperti meningitis tuberkulosa dan tuberculosis milier Daya cegah faksin BCG (Baccilus Calmatte Guerin) terhadap
TB tidak tetap. Hasil penelitian menunjukan bahwa efek pencegahan BCG (Baccilus Calmatte Guerin) bervariasi antara 0%-80%
(WHO,1999) (Koes, I 2006).
f.
Penyakit HIV/ AIDS
Faktor yang mempengaruhi
kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, di
antaranya infeksi HIV/AIDS. HIV merupakan faktor resiko yang
palingkuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV menyebabkan kerusakan
luas sistem daya tahan tubuh seluler, sehingga bila terjadi infeksi penyerta (oportunitis), seperti Mycobacterium tuberculosis, maka yang
akan menjadi sakit parah bahkan bisa Menyebabkank ematian (Koes, I 2006).
g.
Kebiasaan Merokok
Merokok adalah membakar tembakau
yang kemudian ihisap isinya. Definisi perokok menurut WHO dalam depkes tahun
2004 adalah mereka yang merokok setiap hari untuk jangka waktu minimal 6 bulan
selama hidupnya.Merokok merupakan penyebab utama penyakit paruyang bersifat
kronis dan obstruktif, misalnya bronkitis dan emfisema. Merokok juga terkait
dengan influenza dan radang paru lainnya. Pada penderita asma, merokok akan
memperparah gejala asma sebab asa rokok akan lebih menyempitkan saluran
pernapasan. Efek merugikan tersebut mencakup meningkatnya kerentanan terhadap
batuk kronis, produksi dahak dan serak. Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan
meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru,penyakit jantung koroner,
bronkitis kronik dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan
resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali (Koes, I 2006).
4.
Faktor lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatubaik fisik, biologis maupun sosial yang
berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi
kehidupan dan perkembangan manusia. Unsur-unsur lingkungan adalah sebagai
berikut :
a.
lingkungan fisik
Lingkungan fisik adalah segala
sesuatu yang berada di sekitar manusia yang bersifat tidak bernyawa. Misalnya
air, tanah, kelembaban udara, suhu, angin, rumah dan benda mati lainnya (Koes,
I 2006).
b.
Lingkungan Biologis
Lingkungan biologis adalah
segala sesuatu yang bersifat hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, termasuk
mikroorganisme
(Koes, I 2006).
c.
Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah segala
sesuatu tindakan yang mengatur kehidupan manusia dan usaha-usahanya untuk
mempertahankan kehidupan, seperti pendidikan pada tiap individu, rasa tanggung
jawab, pengetahuan keluarga, jenis pekerjan, jumlah penghuni dan keadaan ekonomi.
Lingkungan Rumah yang sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1)
Suhu ruangan dalam pembuatan rumah
harus diusahakan agar konstruksinya sedemikian rupa sehingga suhu ruangan tidak
berubah banyak dan agar kelembaban udara dapat dijaga jangan sampai terlalu
tinggi dan terlalu rendah. Untuk ini harus diusahakan agar perbedaan suhu
antara dinding, lantai, atap dan permukaan jendela tidak terlalu banyak (Koes,
I 2006).
2)
Harus cukup mendapatkan pencahayaan
baik siang maupun malam. Suatu ruangan mendapat penerangan pagi dan siang hari
yang cukup yaitu jika luas ventilasi minimal 10% dari jumlah luas lantai (Koes,
I 2006)..
3)
Ruangan harus segar dan tidak berbau,
untuk ini diperlukan ventilasi yang cukup untuk proses pergantian udara (Koes, I 2006)..
E.
Patogenesis
Kuman
Mycobacterium tuberculosis yang masuk
melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk
suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau postprimer (Nugraha, 2009).
1.
Tuberculosis Primer
Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan
bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut sarang primer
atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam
paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan
peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan
tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis
regional). Afek primer bersama-sama dengan
limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan
mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
a. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas
(antara lain sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus) (Nugraha, 2009).
b. Menyebar dengan cara :
1) Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya Salah satu contoh adalah epituberculosis, yaitu suatu kejadian
penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang
membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan
akibat atelektasis. Bakteri Mycobacterium
tuberculosis akan menjalar sepanjang
bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan
pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai tuberculosis.
2) Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru
sebelahnya atau tertelan (Nugraha, 2009).
3) Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah
dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan
tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan
menimbulkan keadaan cukup gawat seperti Mycobabacterium
tuberculosis milier, meningitis TB, typhobacillosis Landouzy.
Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberculosis
pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan
sebagainya (Nugraha, 2009).
2. Tuberculosis Postprimer
Tuberculosis postprimer akan muncul
bertahun-tahun kemudian setelah tuberculosis
primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberculosis postprimer mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu Mycobacterium tuberculosis bentuk
dewasa, localized tuberculosis, tuberculosis
menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberculosis
inilah yang terutama menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi
sumber penularan. Tuberculosis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang
umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang
dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini
akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
a.
Diresopsi kembali dan
sembuh tanpa meninggalkan cacat (Nugraha,
2009).
b.
Sarang tersebut akan
meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan
fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk
perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk
jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar (Nugraha, 2009).
c.
Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju
(jaringan kaseosa). Kaviti akan muncul dengan
dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian
dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Kaviti tersebut akan menjadi:
1)
meluas kembali dan
menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang pneumoni ini akan mengikuti pola
perjalanan seperti yang disebutkan di atas (Nugraha,
2009).
2)
memadat dan membungkus diri
(enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan
menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti
lagi (Nugraha, 2009).
3)
bersih dan menyembuh yang
disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri
dan akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan
menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate
shaped) (Nugraha, 2009).
F.
Manifestasi Klinis
Gejala umum TB paru adalah batuk lebih
dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam ringan,
nyeri dada, batuk darah
(Roslan, 2003)
Keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis
dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang paling
banyak terjadi yaitu :
1.
Demam
Serangan demam pertama dapat sembuh kembali, tetapi
kadang-kadang panas badan mencapai 40-410C. Demam biasanya
menyerupai demam influenza sehingga penderita biasanya tidak pernah
terbebas dari serangan demam influenza (Roslan, 2003).
2.
Batuk
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus.
Batuk biasanya dialami ± 4 minggu dan bahkan berbulan-bulan. Sifat batuk dimulai
dari batuk non produktif. Keadaan ini biasanya akan berlanjut menjadi batuk
darah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas,
tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus (Roslan, 2003).
3.
Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan
sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana
infiltrasinya sudah meliputi bagian paru-paru (Roslan, 2003).
4.
Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke
pleura sehingga menimbulkan pleuritis (Roslan, 2003).
5.
Malaise
Tuberculosis bersifat radang yang
menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, tidak ada nafsu
makan, badan makin kurus (BB menurun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan
berkeringat malam. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang
timbul secara tidak teratur (Roslan, 2003).
G. Patofisiologi
Bakteri
Mycobacterium tuberculosis adalah
saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan
infeksi terjadi melalui udara (air
borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil Mycobacterium tuberculosis yang terinfeksi. (Suhaidil, 2002).
Basil
tuberculosis yang mencapai alveolus
dan di inhalasi biasanya terdiri atas satu sampai tiga gumpalan. Basil yang
lebih besar cenderung bertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus, sehingga tidak menyebabkan
penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus,
kuman akan mulai mengakibatkan peradangan. Leukosit
polimorfonuklear tampak memfagosit bakteri di tempat ini, namun tidak
membunuh organisme tersebut (Suhaidil,
2002).
Sesudah
hari pertama, maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveolusi yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul
gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh
dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal atau proses dapat
berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel.
Basil juga menyebar melalui getah bening menuju getah bening regional. Makrofag
yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu, sehingga
membentuk sel tuberkel epiteloit yang dikelilingi oleh fosit. Reaksi ini biasanya
membutuhkan waktu 10-20 jam (Suhaidil,
2002).
H.
Diagnosis Tuberculosis
TB paru sering menimbulkan gejala klinis yang dapat dibagi menjadi 2 yaitu gejala respiratorik dan gejala sistematik.
Gejala respiratorik seperti batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada,
sedangkan gejala sistemik seperti demam,
keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan dan malaise. Gejala
respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala
yang cukup berat tergantung dari luasnya lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada
saat medical check up Bila bronkus
belum terlibat dalam proses penyakit, maka mungkin pasien tidak ada gejala
batuk. Batuk yang pertama terjadi akibat adanya iritasi bronkus, dan selanjutnya
batuk diperlukan untuk membuang dahak keluar (Suhaidil, 2002).
Pada awal perkembangan penyakit sangat
sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan
fisik. Kelainan yang dijumpai tergantung dari organ yang terlibat. Kelainan
paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama di daerah apeks
dan segmen posterior. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai antara lain suara
napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda
penarikan paru, diapragma dan mediastinum. Untuk yang diduga menderita TB paru,
diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari yaitu sewakt - pagi – sewaktu
(SPS). Berdasarkan panduan program TB nasional, diagnosis TB paru pada orang
dewasa ditegakkan dengan dijumpainya kuman TB (BTA). Sedangkan pemeriksaan lain
seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang
diagnosis sesuai dengan indikasinya dan
tidak dibenarkan dalam mendiagnosis TB jika diagnosis dibuat hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks (Suhaidil, 2002).
I. Tinjauan Umum
Pewarnaan Ziehl Neelsen
Pewarnaan Ziehl Neelsen, termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai
untuk mewarnai golongan Mycobacterium
tuberculosis dan Mycobacterium leprae)
dan Actinomyces. Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies
nocardia pada dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga
bersifat permeable dengan pewarnaan biasa. Bakteri tersebut bersifat tahan asam
(+) terhadap pewarnaan tahan asam. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis TB
paru.Pewarnaan ini merupakan prosedur untuk membedakan bakteri menjadi 2
kelompok tahan asam dan tidak tahan asam. Bila zat warna yang telah
terpenetrasi tidak dapat dilarutkan dengan alkohol asam, maka bakteri tersebut
disebut tahan asam sedangkan sebaliknya disebut tidak tahan asam. Bahan
pemeriksaan TB paru biasanya berupa sputum yang diambil dari pasien tersangka KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula
diambil dari lokasi lain seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, dll. Pewarnaan Ziehl
Neelsen merupakan Pewarnaan diferensial yang membedakan bakteri tahan asam
dengan bakteri yang bukan tahan asam.Prinsip pewarnaan :Bakteri tahan asam
(BTA) tahan terhadap pencucian dengan alkohol asam, walau telahdicuci dengan
alkohol asam bakteri tahan asam tidak melepaskan zat warna yang telah diikatnya.Bakteri
tahan asam akan berwarna merah, dan bakteri tidak tahan asam berwarna biru (Suhaidil, 2002).
Pewarnaan BTA termasuk pewarnaan
diferensional, karena dapat membedakan bakteri yang tahan asam (tahan pencucian
asam), dan bakteri yang tidak tahan asam (tidak tahan terhadap pencucian asam).
Pewarnaan ini juga dinamakan pewarnaan acid
fast . pewarnaan ini dikembakan pertama kali oleh paul Erlich tahun 1882 ketika meneliti Mycobacterium tuberculosis. Prosedur pewarnaan yang umum digunakan
sekarang merupakan hasil perbaikan tekhnik Erlich
yang asli, yakni pewarnaan Ziehl Neelser.
Prosedur ini menggunakan pewarna utama dengan pemanasan dan biru methylen loeffler sebagai pewarna tandingan. Modifikasi tekhnik
tersebut kemudian mengganti perlakuan panas dengan menggunakan pembasah
(deterjen untuk mengurangi tegangan) permukaan lemak untuk menjamin penetrasi;
pewarna yang mengandung zat pembasah disebut pewarna Kinyoun (Suhaidil,
2002).
Pewarnaan Ziehl Neelsen diperuntukkan bakteri tertentu genus Mycobacterium actinomycetes, dan gugus Nocardia yang mengandung sejumlah besar
lipida dalam dinding selnya, terlihat seperti lapisan lilin. Kandungan lipida
ini sangat tinggi, pada beberapa spesies dapat mencapai 60% dari berat dinding
sel. Kandungan lipida yang sangat tinggi ini menyebabkan sel bakteri sulit
diwarnai, karena zat warna tidak dapat menembus lapisa lilin tersebut. Jika
bakteri tahan asam diwarnai dengan larutan karbol fuchsin, maka zat warna itu
tidak mudah dilunturkan oleh larutan pemucat. Kedua genus bakteri tersebut
mengandung spesies yang patogen terhadap manusia, misalnya Mycobacterium tuberculosis penyebab penyakit tubekulosa, dan Mycobacterium leprae, penyebab penyakit
lepra (Suhaidil,
2002).
Sifat tahan bakteri berkaitan dengan
kandungan lipida dinding sel. Dengan bantuan pemanasan zat warna dapat merasuk
ke dalam sel bakteri yang diliputi oleh lipida. Zat warna yang dipakai pertama
adalah carbol fuchsin yang merupakan fuchsin basa yang dilarutkan dalam larutan
fenol 5%. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu perasukan zat warna ke
dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Biru metilen sebagai zat warna
kedua tidak menyebabkan perubahan warna merah pada bakteri tahan asam. Pada
bakteri tidak tahan asam, biru metilen akan diikat oleh sel bakteri yang tidak
berwarna (Suhaidil, 2002).
waktu batuk atau bersin,
Penderita menyebarkan kuman ke udaradalam bentuk droplet. Orang dapat
terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Sebagian
besar kuman ini menyerang paru-paru tetapi dapat juga terserang organ tubuh
lainnya. Untuk menegakkan diagnosis penyakit Tuberculosis dilakukan pemeriksaan labolatorium diantaranya adalah
pemeriksaan sputum dengan menggunakan sampel dahak secara mikroskopis dengan
pewarnaan Ziehl-Neelsen dan
pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan foto rongseng sehingga
akan diketahui nilai pemeriksaanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar