Sabtu, 28 Mei 2016

TB Paru


Mycobacterium Tuberculosis
A.   Mycobacterium Tuberculosis
Tuberculosis  (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri  Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia (Budiman B, 2006).
B.   Morfologi dan struktur Mycobacterium tuberculosis
Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3 – 0,6 mm dan panjang 1 – 4 mm. Dinding Mycobacterium tuberculosis sangat kompleks, terdiri dari lapisan lemak cukup tinggi (60%). Penyusun utama dinding sel Mycobacterium tuberculosis  ialah asam mikolat, lilin kompleks (complex-waxes), trehalosa dimikolat yang disebut cord factor, dan Mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi Asam mikolat merupakan asam lemak berantai panjang (C60 – C90) yang dihubungkan dengan arabinogalaktan oleh ikatan glikolipid dan dengan peptidoglikan oleh jembatan fosfodiester. Unsur lain yang terdapat pada dinding sel bakteri tersebut adalah polisakarida seperti arabinogalaktan dan arabinomanan. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis bersifat tahan asam, yaitu apabila sekali diwarnai akan tetap tahan terhadap upaya penghilangan zat warna tersebut dengan larutan asam–alkohol (Budiman B, 2006).
C.   Klasifikasi
1.  Kingdom: Bacteria
2.  Filum: Actinobacteria  
3.  Ordo: Actinomycetales  
4.  Upaordo: Corynebacterineae
5.  Famili: Mycobacteriaceae
6.  Genus: Mycobacterium
7.  Spesies:Mycobacterium tuberculosis
(Budiman B, 2006).
D.   Factor faktor yang berhubungan dengan terjadinya peningkatan angka kejadian penyakit TB Paru.
Faktor-faktor yang memungkinkan orang mudah terinfeksi  penyakit TB paru ada beberapa karakteristik golongan penduduk yang  mempunyai risiko mendapat TB paru lebih besar daripada golongan  lainnya. Diantaranya adalah faktor umur, pendidikan, pengetahuan,pekerjaan, jenis kelamin, kondisi lingkungan yang tidak sehat, adanya  penyakit lain yang menyebabkan daya tahan tubuh rendah, gizi buruk,  kontak dengan sumber penularan, pengaruh merokok, asap dapur, asap obat nyamuk dan sebagainya (Koes, I 2006).


1.     Faktor Agent (penyebab penyakit)
Faktor agent (penyebab penyakit) yaitu semua unsur baik elemen hidup atau mati  yang kehadirannya dan atau ketidakhadirannya, apabila diikuti dengan  kontak yang efektif dengan manusia rentan dalam keadaan yang  memungkinkan akan memudahkan terjadinya suatu proses penyakit.  Agen diklasifikasikan sebagai agen biologis, kimia, nutrisi, mekanik, dan fisik. Untuk khusus TB paru yang menjadi agen adalah kuman  Micobacterium tuberculosis  (Nugraha, 2009) .
Menurut penelitian, angka prevalensi TB di masyarakat,  pengobatan yang relatif lama, terutama yang kontak serumah dengan  penderita TB Paru menyebabkan meningkatnya kejadian TB paru. Hasil penelitian, menemukan bahwa lama kontak > 3 bulan dengan penderita TB paru dapat meningkatkan kejadian TB paru dalam masyarakat (Koes, I 2006).
2.  Faktor Host (Penjamu)
Faktor Host (pejamu) adalah manusia yang mempunyai kemungkinan terpapar oleh Agent (penyebab penyakit). Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan  penjamu antara lain usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, kebiasaan hidup, status perkawinan, pekerjaan keturunan, nutrisi dan imunitas. Faktor tersebut menjadi penting karena dapat mempengaruhi resiko untuk terpapar.


sumber infeksi dan kerentanan serta resistensi dari manusia terhadap suatu penyakit atau infeksi seperti halnya :
a.      Pendidikan
     Pendidikan akan menggambarkan perilaku seseorang dalam kesehatan. Semakin rendah pendidikan maka ilmu pengetahuan di bidang kesehatan semakin berkurang, baik yang menyangkut asupan makanan, penanganan keluarga yang menderita sakit dan usaha-usaha preventif lainnya.Tingkat pendidikan yang rendah dapat mempengaruhi pengetahuan di bidang kesehatan, maka secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi lingkungan fisik, lingkungan biologis dan lingkungan sosial yang merugikan kesehatan dan dapat mempengaruhi penyakit TB dan pada  akhirnya mempengaruhi tingginya kasus TB yang ada. Pendidikan berkaitan dengan pengetahuan penderita. Pendidikan penderita yang rendah mengakibatkan pengetahuan rendah, sehingga memungkinkan penderita dapat putus dalam pengobatan karena minimnya pengetahuan dari penderita dan ketidak mengertinya pengobatan. Hal ini mengakibatkan penderita tidak dapat teratur dalam program pengobatan yang dijalani. Hampir seluruh penelitian sebelumnya menemukan faktor pendidikan sangat erat kaitannya dengan ketidak teraturan berobat dan minum obat (Koes, I 2006).

b.  Pengetahuan
     Pengetahuan penderita yang baik tentang penyakit TB paru dan pengobatannya akan meningkatkan keteraturan penderita, dibandingkan dengan penderita yang kurang akan pengetahuan penyakit TB paru dan pengobatannya..Seseorang yang punya pengetahuan yang baik tentang penularan TB paru,akan berupaya untuk mencegah penularannya.Kategori pengetahuan dapat dikelompokkan berdasarkan jawaban benar responden. Pengetahuan tinggi jika responden dapat menjawab dengan benar 75%, dan rendah bila < 75% (Koes, I 2006).
c.  Pendapatan
     Pendapatan akan banyak berpengaruh terhadap perilaku dalam menjaga kesehatan dalam keluarga. Hal ini disebabkan pendapatan mempengaruhi pendidikan dan pengetahuan seseorang dalam mencari pengobatan mempengaruhi asupan makanan, mempengaruhi lingkungan tempat tinggal seperti keadaan rumah dan bahkan kondisi pemukiman yang di tempati. Sekitar 90% penderita TB paru di dunia menyerang kelompok dengan sosial ekonomi lemah atau miskin. Faktor kemiskinan walaupun tidak berpengaruh langsung pada kejadian tuberculosis paru namun dari beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pendapatan yang rendah dan kejadian tuberculosis paru. Lebih lagi bahwa ada hubungan pengangguran dengan kejadian tuberculosis (Koes, I 2006).
d.     Status Gizi
Secara umum kekurangan gizi, atau gizi buruk akan berpengaruh terhadap kekuatan, daya tahan dan respon imun terhadap serangan penyakit. Faktor ini sangat penting pada masyarakat miskin, baik pada orang dewasa maupun pada anak. faktor kurang gizi atau gizi buruk akan meningkatkan angka kesakitan/kejadian TB paru, terutama TB paru pertama sakit dikutip dari Misnardiarly (Koes, I 2006).
e.      Imunisasi BCG (Baccilus Calmatte Guerin)
     Hubungan kekebalan (status imunisasi) dengan kejadian TB paru  bahwa anak yang divaksinasi BCG (Baccilus Calmatte Guerin) memiliki risiko 0,6 kali untuk terinfeksi tuberculosis (95% CI 0,430,83, p= 0,003), dibandingkan dengan anak-anak yang belum divaksin. Walaupun imunisasi BCG (Baccilus Calmatte Guerin) tidak mengegah infeksi tuberculosis namun dapat mengurangi risiko TB paru berat seperti meningitis tuberkulosa dan tuberculosis milier Daya cegah faksin BCG (Baccilus Calmatte Guerin) terhadap TB tidak tetap. Hasil penelitian menunjukan bahwa efek pencegahan BCG (Baccilus Calmatte Guerin) bervariasi antara 0%-80% (WHO,1999) (Koes, I 2006).

f.       Penyakit HIV/ AIDS
     Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, di antaranya infeksi HIV/AIDS. HIV merupakan faktor resiko yang palingkuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV menyebabkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler, sehingga bila terjadi infeksi penyerta (oportunitis), seperti Mycobacterium tuberculosis, maka yang akan menjadi sakit parah bahkan bisa Menyebabkank ematian (Koes, I 2006).
g.     Kebiasaan Merokok
     Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian ihisap isinya. Definisi perokok menurut WHO dalam depkes tahun 2004 adalah mereka yang merokok setiap hari untuk jangka waktu minimal 6 bulan selama hidupnya.Merokok merupakan penyebab utama penyakit paruyang bersifat kronis dan obstruktif, misalnya bronkitis dan emfisema. Merokok juga terkait dengan influenza dan radang paru lainnya. Pada penderita asma, merokok akan memperparah gejala asma sebab asa rokok akan lebih menyempitkan saluran pernapasan. Efek merugikan tersebut mencakup meningkatnya kerentanan terhadap batuk kronis, produksi dahak dan serak. Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru,penyakit jantung koroner, bronkitis kronik dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali (Koes, I 2006).
4.  Faktor lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatubaik fisik, biologis maupun sosial yang berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Unsur-unsur lingkungan adalah sebagai berikut :
a.    lingkungan fisik
     Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang bersifat tidak bernyawa. Misalnya air, tanah, kelembaban udara, suhu, angin, rumah dan benda mati lainnya (Koes, I 2006).
b.    Lingkungan Biologis
     Lingkungan biologis adalah segala sesuatu yang bersifat hidup seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, termasuk mikroorganisme
(Koes, I 2006).
c.    Lingkungan Sosial
     Lingkungan sosial adalah segala sesuatu tindakan yang mengatur kehidupan manusia dan usaha-usahanya untuk mempertahankan kehidupan, seperti pendidikan pada tiap individu, rasa tanggung jawab, pengetahuan keluarga, jenis pekerjan, jumlah penghuni dan keadaan ekonomi.
Lingkungan Rumah yang sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1)    Suhu ruangan dalam pembuatan rumah harus diusahakan agar konstruksinya sedemikian rupa sehingga suhu ruangan tidak berubah banyak dan agar kelembaban udara dapat dijaga jangan sampai terlalu tinggi dan terlalu rendah. Untuk ini harus diusahakan agar perbedaan suhu antara dinding, lantai, atap dan permukaan jendela tidak terlalu banyak (Koes, I 2006).
2)    Harus cukup mendapatkan pencahayaan baik siang maupun malam. Suatu ruangan mendapat penerangan pagi dan siang hari yang cukup yaitu jika luas ventilasi minimal 10% dari jumlah luas lantai (Koes, I 2006)..
3)    Ruangan harus segar dan tidak berbau, untuk ini diperlukan ventilasi yang cukup untuk proses pergantian udara  (Koes, I 2006)..
E.    Patogenesis
Kuman Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau postprimer (Nugraha, 2009).
1.  Tuberculosis Primer
     Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni, yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :
a.  Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum) Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus) (Nugraha, 2009).
b.  Menyebar dengan cara :
1)  Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya Salah satu contoh adalah epituberculosis, yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya bronkus lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan akibat atelektasis. Bakteri Mycobacterium tuberculosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagai tuberculosis.
2)  Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya atau tertelan (Nugraha, 2009).
3)  Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti Mycobabacterium tuberculosis milier, meningitis TB, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberculosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya (Nugraha, 2009).
2.  Tuberculosis Postprimer
     Tuberculosis postprimer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah tuberculosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberculosis postprimer mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu Mycobacterium tuberculosis bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberculosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberculosis inilah yang terutama menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan. Tuberculosis postprimer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
a.      Diresopsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat (Nugraha, 2009).
b.      Sarang tersebut akan meluas dan segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sarang tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar (Nugraha, 2009).
c.    Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Kaviti tersebut akan menjadi:
1)   meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang pneumoni ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang disebutkan di atas (Nugraha, 2009).
2)   memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi (Nugraha, 2009).
3)   bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped) (Nugraha, 2009).
F.    Manifestasi Klinis
     Gejala umum TB paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam ringan, nyeri dada, batuk darah
(Roslan, 2003)
     Keluhan yang dirasakan penderita tuberculosis dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang paling banyak terjadi yaitu :
1.  Demam
Serangan demam pertama dapat sembuh kembali, tetapi kadang-kadang panas badan mencapai 40-410C. Demam biasanya menyerupai demam influenza sehingga penderita biasanya tidak pernah terbebas dari serangan demam influenza (Roslan, 2003).
2.  Batuk
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk biasanya dialami ± 4 minggu dan bahkan berbulan-bulan. Sifat batuk dimulai dari batuk non produktif. Keadaan ini biasanya akan berlanjut menjadi batuk darah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus (Roslan, 2003).



3.  Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas. Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah meliputi bagian paru-paru (Roslan, 2003).
4.  Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis (Roslan, 2003).
5.  Malaise
Tuberculosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, badan makin kurus (BB menurun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, dan berkeringat malam. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur (Roslan, 2003).
G. Patofisiologi
Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi terjadi melalui udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil Mycobacterium tuberculosis  yang terinfeksi. (Suhaidil,  2002).
Basil tuberculosis yang mencapai alveolus dan di inhalasi biasanya terdiri atas satu sampai tiga gumpalan. Basil yang lebih besar cenderung bertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus, sehingga tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus, kuman akan mulai mengakibatkan peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak memfagosit bakteri di tempat ini, namun tidak membunuh organisme tersebut (Suhaidil,  2002).
Sesudah hari pertama, maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveolusi yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal atau proses dapat berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu, sehingga membentuk sel tuberkel epiteloit yang dikelilingi oleh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10-20 jam (Suhaidil,  2002).
H.   Diagnosis Tuberculosis
TB paru sering menimbulkan gejala klinis yang dapat dibagi menjadi 2 yaitu  gejala respiratorik dan gejala sistematik. Gejala respiratorik seperti batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, sedangkan gejala sistemik seperti  demam, keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan dan malaise. Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luasnya lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada saat medical check up Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka mungkin pasien tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi akibat adanya iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak keluar (Suhaidil,  2002).
Pada awal perkembangan penyakit sangat sulit menemukan kelainan pada  pemeriksaan fisik. Kelainan yang dijumpai tergantung dari organ yang terlibat. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama di daerah apeks dan segmen posterior. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diapragma dan mediastinum. Untuk yang diduga menderita TB paru, diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari yaitu sewakt - pagi – sewaktu (SPS). Berdasarkan panduan program TB nasional, diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan dijumpainya kuman TB (BTA). Sedangkan pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sesuai dengan indikasinya  dan tidak dibenarkan dalam mendiagnosis TB jika diagnosis dibuat hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks (Suhaidil,  2002).
I.    Tinjauan Umum Pewarnaan Ziehl Neelsen
Pewarnaan Ziehl Neelsen, termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai untuk mewarnai golongan Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium leprae) dan Actinomyces. Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga bersifat permeable dengan pewarnaan biasa. Bakteri tersebut bersifat tahan asam (+) terhadap pewarnaan tahan asam. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis TB
paru.Pewarnaan ini merupakan prosedur untuk membedakan bakteri menjadi 2 kelompok tahan asam dan tidak tahan asam. Bila zat warna yang telah terpenetrasi tidak dapat dilarutkan dengan alkohol asam, maka bakteri tersebut disebut tahan asam sedangkan sebaliknya disebut tidak tahan asam. Bahan pemeriksaan TB paru biasanya berupa sputum yang diambil dari pasien tersangka KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, dll. Pewarnaan Ziehl Neelsen merupakan Pewarnaan diferensial yang membedakan bakteri tahan asam dengan bakteri yang bukan tahan asam.Prinsip pewarnaan :Bakteri tahan asam (BTA) tahan terhadap pencucian dengan alkohol asam, walau telahdicuci dengan alkohol asam bakteri tahan asam tidak melepaskan zat warna yang telah diikatnya.Bakteri tahan asam akan berwarna merah, dan bakteri tidak tahan asam berwarna biru (Suhaidil,  2002).
Pewarnaan BTA termasuk pewarnaan diferensional, karena dapat membedakan bakteri yang tahan asam (tahan pencucian asam), dan bakteri yang tidak tahan asam (tidak tahan terhadap pencucian asam). Pewarnaan ini juga dinamakan pewarnaan acid fast . pewarnaan ini dikembakan pertama kali oleh paul Erlich tahun 1882 ketika meneliti Mycobacterium tuberculosis. Prosedur pewarnaan yang umum digunakan sekarang merupakan hasil perbaikan tekhnik Erlich yang asli, yakni pewarnaan Ziehl Neelser. Prosedur ini menggunakan pewarna utama dengan pemanasan dan biru methylen loeffler  sebagai pewarna tandingan. Modifikasi tekhnik tersebut kemudian mengganti perlakuan panas dengan menggunakan pembasah (deterjen untuk mengurangi tegangan) permukaan lemak untuk menjamin penetrasi; pewarna yang mengandung zat pembasah disebut pewarna Kinyoun (Suhaidil,  2002).
Pewarnaan Ziehl Neelsen diperuntukkan bakteri tertentu genus Mycobacterium actinomycetes, dan gugus Nocardia yang mengandung sejumlah besar lipida dalam dinding selnya, terlihat seperti lapisan lilin. Kandungan lipida ini sangat tinggi, pada beberapa spesies dapat mencapai 60% dari berat dinding sel. Kandungan lipida yang sangat tinggi ini menyebabkan sel bakteri sulit diwarnai, karena zat warna tidak dapat menembus lapisa lilin tersebut. Jika bakteri tahan asam diwarnai dengan larutan karbol fuchsin, maka zat warna itu tidak mudah dilunturkan oleh larutan pemucat. Kedua genus bakteri tersebut mengandung spesies yang patogen terhadap manusia, misalnya Mycobacterium tuberculosis  penyebab penyakit tubekulosa, dan Mycobacterium leprae, penyebab penyakit lepra (Suhaidil,  2002).
Sifat tahan bakteri berkaitan dengan kandungan lipida dinding sel. Dengan bantuan pemanasan zat warna dapat merasuk ke dalam sel bakteri yang diliputi oleh lipida. Zat warna yang dipakai pertama adalah carbol fuchsin yang merupakan fuchsin basa yang dilarutkan dalam larutan fenol 5%. Fenol digunakan sebagai pelarut untuk membantu perasukan zat warna ke dalam sel bakteri sewaktu proses pemanasan. Biru metilen sebagai zat warna kedua tidak menyebabkan perubahan warna merah pada bakteri tahan asam. Pada bakteri tidak tahan asam, biru metilen akan diikat oleh sel bakteri yang tidak berwarna (Suhaidil,  2002).
waktu batuk atau bersin, Penderita menyebarkan kuman ke udaradalam bentuk droplet. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Sebagian besar kuman ini menyerang paru-paru tetapi dapat juga terserang organ tubuh lainnya. Untuk menegakkan diagnosis penyakit Tuberculosis dilakukan pemeriksaan labolatorium diantaranya adalah pemeriksaan sputum dengan menggunakan sampel dahak secara mikroskopis dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen dan pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan foto rongseng sehingga akan diketahui nilai pemeriksaanya.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar